You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Margahurip
Margahurip

Kec. Banjaran, Kab. Bandung, Provinsi Jawa Barat

SURAT TERBUKA DARI KEPALA DESA DAN PERANGKAT DESA UNTUK PRESIDEN PRABOWO

AJAT SUDRAJAT 15 Februari 2026 Dibaca 8 Kali

SURAT TERBUKA DARI KEPALA DESA DAN PERANGKAT DESA
UNTUK PRESIDEN PRABOWO

 

Yang kami hormati, Bapak Presiden Republik Indonesia,

Pak Presiden…izinkan kami menyapa dengan sederhana.

Kami adalah rakyatmu. Kami adalah anak-anakmu. Kami adalah pembantumu yang berdiri di barisan paling bawah republik ini.

Kami yang pertama kali didatangi warga ketika malam belum berganti pagi. Kami yang dicari ketika ada kematian, kelaparan, konflik, bencana, dan kesulitan.

Kami yang tak pernah benar-benar pulang dari pekerjaan, karena rumah kami adalah kantor, dan warga kami adalah tanggung jawab yang hidup 24 jam.

Pak Presiden, kami rindu bertemu. Bukan untuk menuntut. Bukan untuk berdebat. Hanya untuk duduk. Berbicara. Didengar.

Seperti dulu, ketika Bapak datang ke desa-desa saat kampanye. Ketika kami bisa menatap langsung mata Bapak. Ketika jarak antara Kita dekat.

Namun hari ini, Pak Presiden, kami seperti terpisah oleh dinding yang tinggi. Kami mencoba datang. Kami mengetuk. Kami mengirimkan suara kami. Kami bersurat. 

Tapi sepertinya  tak satu pun sampai ke Bapak. Entah Bapak terlalu sibuk mengurus negeri yang besar ini. Atau ada tangan-tangan di sekeliling Bapak yang menutup jalan kami.

Kami tidak tahu. Yang kami tahu, kami tak pernah diberi kesempatan menjelaskan keadaan kami ke Bapak. 

Karena itulah, dengan hati yang berat, kami menulis surat terbuka ini.

Pak Presiden, tahun lalu, lebih dari 30 ribu desa tidak menerima Dana Desa tahap kedua. Bukan angka di laporan. Itu desa-desa nyata. Itu rakyat nyata.

Akibatnya, banyak program desa terhenti. Banyak pembangunan yang sudah dimulai, tapi tak bisa diselesaikan.

Lebih dari itu, banyak desa menanggung utang. Utang ke toko material. Utang ke tukang. Utang ke warga kami sendiri.

Kami menanggung malu, Pak Presiden. Karena kami yang berjanji. Kami yang meyakinkan warga. Kami yang akhirnya harus menunduk.

Ketika kami menyampaikan aspirasi, kami tidak didengar. Kami justru dicaci. Kami dituduh berdemo karena tidak bisa lagi korupsi. Begitu suara netizen di ruang - ruang medsos yang liar.

Seolah seluruh pengabdian kami runtuh hanya oleh satu prasangka. Seolah kami tidak pernah bekerja jujur.

Tahun ini, Dana Desa kami kembali berkurang. Lebih dari 70 persen dialihkan untuk program lain. Kami patuh. Kami diam. Kami menahan.

Namun Pak Presiden, pukulan paling keras datang pada Jumat, 13 Februari 2026 lalu. 

Di sebuah forum resmi, Bapak menyampaikan bahwa selama 10 tahun ini, banyak Dana Desa tidak sampai ke masyarakat karena dikorupsi oleh Kepala Desa.

Kalimat itu, Pak Presiden…jatuh tepat ke dada kami. Kami terdiam. Kami terpukul. Kami seperti kehilangan pijakan.

Kalimat itu bukan datang dari orang asing. Bukan dari pembenci desa. Bukan dari buzzer. Tapi kalimat itu datang dari Presiden kami sendiri. Kami bahkan seolah tidak percaya andai tidak melihat rekaman videonya. 

Sejak hari itu, kami takut membuka media sosial. Kami diserang. Dihina. Dicibir. Para haters dan buzzer berpesta. Bertepuk tangan. Mereka mendapatkan legitimasi dari orang nomor satu di negeri ini. 

Desa disebut sarang korupsi. Kepala Desa dicap penjahat. Kami semuanya dianggap pemakan uang rakyat.

Padahal, Pak Presiden…kami ingin mengajak Bapak melihat desa kami hari ini. Melihat jalan yang dulu becek kini bisa dilewati ambulans. Melihat anak-anak desa yang kini bisa sekolah lebih dekat. Melihat puskesmas, posyandu, BUMDes, jembatan, irigasi—semua berdiri sebagai saksi kerja kami selama 10 tahun.

Kami tidak menyangkal, memang ada di antara kami yang khilaf dan korup. Mereka harus dihukum. Kami sepakat.

Tapi Pak Presiden, jangan biarkan kesalahan sebagian kecil menghapus pengabdian puluhan ribu desa lainnya.

Kami hanya meminta keadilan dalam membaca data. Keadilan dalam menyampaikan narasi. Keadilan dalam memandang desa.

Pak Presiden…kami lelah, tapi kami masih berdiri. Kami terluka, tapi kami masih bekerja. Kami kecewa, tapi kami masih setia. 

Karena kami percaya, Presiden seharusnya melindungi anak-anaknya. Bukan membiarkan mereka sendirian menghadapi stigma.

Pak Presiden, dengan segala kerendahan hati, tolong beri kami waktu untuk bertemu.

Agar kami bisa bicara langsung. Dari hati ke hati. Tanpa prasangka. Tanpa jarak.
Kami hanya ingin didengar
Hormat kami,

Anak-anakmu di desa,

Kepala Desa dan Perangkat Desa

di seluruh Indonesia

 

APBDes 2026 Pelaksanaan

APBDes 2026 Pendapatan

APBDes 2026 Pembelanjaan